- Surabaya Mulai Dilirik sebagai Hub Data Center
- Apa Hubungannya dengan Ekonomi Surabaya?
- UMKM dan Bisnis Surabaya Bisa Ikut Merasakan Efeknya
- Tetapi Ada “Harga” yang Harus Dibayar
- Listrik Menjadi Bagian dari Persaingan Investasi
- Jangan Sampai AI Hanya Menambah Beban Infrastruktur
- Pemerintah Kota Juga Mulai Memperkuat Ekosistem Investasi
- Peluang Besar, Tetapi Perlu Perhitungan
- AI Bisa Menjadi Peluang Ekonomi Baru Surabaya
Ketika berbagai sektor industri menghadapi perlambatan, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) justru menjadi salah satu sumber investasi yang terus berkembang.
OECD dan Chief Economists' Outlook dari World Economic Forum (WEF) sama-sama melihat besarnya investasi AI sebagai salah satu penopang aktivitas ekonomi, terutama di negara-negara G20.
Namun, pertumbuhan AI membutuhkan sesuatu yang sangat nyata: pusat data, listrik, jaringan internet, dan infrastruktur digital.
Bagi Surabaya, perkembangan ini bukan sekadar cerita tentang teknologi. Kota terbesar kedua di Indonesia tersebut mulai mengambil posisi dalam ekosistem pusat data untuk kawasan Indonesia Timur.
Surabaya Mulai Dilirik sebagai Hub Data Center
Pada April 2026, DCI Indonesia meresmikan E2 Data Center Surabaya dengan kapasitas IT sebesar 9 megawatt (MW).
Kehadiran fasilitas tersebut ditujukan untuk memperkuat pemerataan kapasitas pusat data yang selama ini masih terkonsentrasi di Jakarta. Infrastruktur data center juga semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan komputasi, cloud computing, dan AI.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut Surabaya berpotensi menjadi hub data center untuk kawasan Indonesia Timur. Infrastruktur digital dinilai penting karena perekonomian Jawa Timur banyak ditopang perdagangan, manufaktur, dan jasa.
Artinya, pertumbuhan AI dapat membuka peluang baru bagi Surabaya, bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai bagian dari infrastruktur yang menopangnya.
Apa Hubungannya dengan Ekonomi Surabaya?
Data center mungkin terlihat seperti bangunan yang penuh server. Namun, di baliknya terdapat rantai ekonomi yang cukup panjang.
Pembangunan data center membutuhkan investasi, konstruksi, jaringan telekomunikasi, sistem pendingin, keamanan, tenaga listrik, hingga tenaga kerja dengan keterampilan tertentu.
Ketika infrastruktur tersebut tersedia, perusahaan di Surabaya dan wilayah Indonesia Timur juga dapat memperoleh akses terhadap layanan komputasi dan penyimpanan data yang lebih dekat.
Bagi pelaku usaha, hal ini dapat membantu mereka menggunakan teknologi seperti cloud computing dan AI tanpa harus membangun seluruh infrastruktur komputasinya sendiri.
Dengan kata lain:
Investasi data center → infrastruktur digital bertambah → akses teknologi meningkat → peluang digitalisasi bisnis semakin besar.
UMKM dan Bisnis Surabaya Bisa Ikut Merasakan Efeknya
Pertumbuhan AI tidak harus selalu berarti perusahaan membangun model AI sendiri.
Pelaku usaha dapat memanfaatkan AI untuk berbagai aktivitas, seperti menganalisis data penjualan, membuat proyeksi permintaan, membantu layanan pelanggan, mengotomatisasi pekerjaan administratif, hingga membuat materi pemasaran.
Bagi UMKM, teknologi semacam ini dapat membantu pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan lebih banyak waktu atau tenaga.
Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha mengadopsi teknologi dan kualitas infrastruktur digital yang tersedia.
Karena itu, pembangunan data center menjadi salah satu bagian dari ekosistem yang memungkinkan transformasi digital tersebut berjalan.
Tetapi Ada “Harga” yang Harus Dibayar
Di balik peluang tersebut terdapat tantangan yang tidak kecil.
Data center merupakan fasilitas yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan pasokan yang sangat andal.
Kementerian ESDM memperkirakan kebutuhan listrik sektor data center di Indonesia dapat mencapai sekitar 32 GW pada 2032. Pemerintah juga mencatat kebutuhan listrik data center meningkat lebih dari lima kali lipat dalam lima tahun terakhir.
Artinya, semakin banyak pusat data dibangun, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur kelistrikan.
Bagi kota seperti Surabaya, pertanyaannya kemudian bukan hanya:
“Berapa banyak investasi data center yang bisa masuk?”
Tetapi juga:
“Apakah infrastruktur kota mampu mendukung pertumbuhan tersebut secara berkelanjutan?”
Listrik Menjadi Bagian dari Persaingan Investasi
Menariknya, persaingan mendapatkan investasi data center tidak lagi hanya mengenai harga tanah atau tarif listrik.
Kementerian ESDM menyebut data center membutuhkan kapasitas listrik yang cukup, keandalan, kualitas daya, kemampuan untuk ditingkatkan, serta kepastian pasokan. Faktor rendah karbon dan konektivitas juga semakin penting.
Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Surabaya.
Jika infrastruktur listrik dan jaringan digital dapat berkembang mengikuti kebutuhan industri, kota ini memiliki modal untuk menarik lebih banyak aktivitas ekonomi berbasis teknologi.
Namun, jika pertumbuhan permintaan tidak diimbangi kapasitas infrastruktur, biaya utilitas dan kebutuhan investasi tambahan juga dapat meningkat.
Jangan Sampai AI Hanya Menambah Beban Infrastruktur
WEF memberikan catatan penting mengenai ekspansi pusat data: pertumbuhannya dapat menghadapi penolakan masyarakat di tingkat lokal serta meningkatnya biaya utilitas.
Artinya, pembangunan infrastruktur AI perlu memperhatikan kondisi kota tempat fasilitas tersebut berdiri.
Surabaya tidak hanya perlu memikirkan berapa besar investasi yang masuk, tetapi juga bagaimana investasi tersebut terintegrasi dengan kebutuhan energi, lingkungan, tata ruang, dan masyarakat.
Dengan begitu, manfaat ekonominya tidak berhenti pada perusahaan teknologi saja.
Pemerintah Kota Juga Mulai Memperkuat Ekosistem Investasi
Dari sisi pemerintah kota, Surabaya baru-baru ini meluncurkan Dashboard Investasi melalui DPMPTSP.
Platform tersebut mengintegrasikan informasi mengenai rencana dan realisasi investasi, sektor usaha, nilai penanaman modal, proyek, serta penyerapan tenaga kerja.
Surabaya juga menyediakan layanan digital untuk membantu calon investor melihat potensi wilayah, melakukan simulasi investasi, serta mengecek kesesuaian lokasi usaha dengan tata ruang.
Digitalisasi informasi investasi ini menjadi relevan ketika jenis investasi yang masuk semakin membutuhkan infrastruktur dan perencanaan yang kompleks, termasuk sektor teknologi dan data center.
Peluang Besar, Tetapi Perlu Perhitungan
AI memang sedang menjadi salah satu sumber investasi yang menopang pertumbuhan ekonomi global.
Bagi Surabaya, peluangnya dapat muncul melalui pembangunan data center, pengembangan bisnis digital, kebutuhan tenaga kerja teknologi, hingga digitalisasi perusahaan lokal.
Namun, pertumbuhan tersebut membutuhkan fondasi yang tidak sedikit: listrik yang andal, jaringan internet, sumber daya manusia, tata ruang, dan pengelolaan dampak lingkungan.
Karena itu, keberhasilan Surabaya dalam memanfaatkan momentum AI bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak perusahaan teknologi yang datang.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kota ini memastikan bahwa pertumbuhan infrastruktur digital dapat berjalan seiring dengan kapasitas kota dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
AI Bisa Menjadi Peluang Ekonomi Baru Surabaya
AI mungkin dikembangkan di layar komputer, tetapi pertumbuhannya membutuhkan infrastruktur yang sangat nyata.
Server membutuhkan gedung. Gedung membutuhkan listrik. Listrik membutuhkan jaringan. Dan semuanya membutuhkan investasi serta perencanaan.
Dengan mulai berkembangnya infrastruktur data center di Surabaya, kota ini memiliki bagian penting dalam rantai ekonomi digital Indonesia Timur.
Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tidak hanya cepat, tetapi juga terukur, efisien, dan mampu memberikan manfaat bagi ekosistem bisnis Surabaya secara lebih luas.